Pilih Training Karyawan dengan Tepat

 

Pilih Training Karyawan dengan Tepat

Perusahaan telah mengadakan berbagai pelatihan kepada karyawannya. Namun, tidak ada perubahan signifikan dari pelatihan yang diberikan.


Apa sebenarnya penyebabnya dan apa solusi yang tepat? Training telah diberikan kepada perusahaan dengan harapan karyawan dapat memberikan kontribusi yang lebih kepada perusahaan. Nyatanya, motivasi mereka masih tetap kendur dan performa yang dicapai masih standar. Bahkan, target perusahaan tidak tercapai.

Kalau begini, sia-sia saja usaha mengadakan pelatihan, seminar, maupun workshop dengan mendatangkan pembicara maupun motivator ulung. Padahal, perusahaan telah mengeluarkan uang yang tidak sedikit demi menyelenggarakan berbagai kegiatan tersebut. Perusahaan pun berharap pelatihan akan memberi dampak nyata bagi perkembangan karyawan.

Lantas, di mana letak kesalahannya? Sebelum menyalahkan karyawan, ada baiknya Anda menganalisis pelatihan yang diberikan. Dari sini Anda dapat menarik kesimpulan dan mengevaluasinya. Menurut M Robi Rifai selaku konsultan yunior dari Master Talent Consultant, sering kali perusahaan berangkat dari asumsi bahwa biaya penyelenggaraan pelatihan adalah sebagai pengeluaran bukannya investasi.

Tak heran jika perusahaan akhirnya memberikan pelatihan yang kurang tepat guna bagi karyawan. "Seharusnya perusahaan menyadari bahwa uang yang dikeluarkan adalah sebuah investasi yang nantinya akan memberikan kontribusi positif di masa mendatang," ujar Robi.

Managing Director Bloom Training Laboratory Akhmad Guntar menilai, masih banyak pihak yang terjebak pada penilaian efektivitas training dari seberapa menikmatinya para peserta training terhadap pelatihan. Workshop berubah wujud menjadi semacam hiburan yang membuat peserta merasa enjoy, namun tidak ada pengaruhnya terhadap kompetensi mereka. Hendaknya evaluasi efektivitas training juga memperhitungkan penambahan pengetahuan, kemampuan peserta mengaplikasikan dalam situasi riil dan dampak atau hasil yang diperoleh perusahaan.

"Sehingga perusahaan perlu berhati-hati manakala para trainer terlalu banyak melakukan ice breaker dan game yang sama sekali tidak mengandung muatan pembelajaran," kata Guntar. Guntar pun melihat selama ini experiential learning diabaikan. Peserta pelatihan hanya diajak mendengarkan pembicara berbicara selama berjam-jam tanpa mendapat pengalaman atau belajar langsung dari pengalaman itu.

Logikanya, seseorang tak mungkin bisa menjadi dokter bedah hanya dengan mendengarkan ceramah, bukan? Seseorang pun tak akan jago menjual hanya dengan mengikuti seminar motivasi.

Maka, peserta harus diajak melakukan praktik.Terlebih lagi jika ini training untuk para salesperson, maka experiential role playing adalah metode yang terbaik. Merancang dan memimpin aktivitas experiential learning serta workshopadalah kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh sembarang pembicara seminar. Karena tabiat dan aktivitas yang ada di sana berbeda, lebih dari sekadar diskusi dan tanya jawab.

Di sini ada struktur pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga peserta dapat aktif terlibat dan berkolaborasi menjalani kasus riil dalam bentuk simulasi. Experiential learningpun tak akan banyak membantu jika sejak awal apa yang ditargetkan adalah perkara yang salah, tujuan belajar yang tidak tajam dan indikator keberhasilan yang gamang.

Yang masih sering ditemui adalah training yang bersifat terlalu umum, tidak disesuaikan dengan target pencapaian, strategi dan budaya perusahaan. Model training yang umum seperti ini memang dapat menambah pengetahuan, namun tidak lantas membuat pesertanya mampu menerapkannya dalam kasus riil di lapangan.

Bentuk lainnya, peserta tak akan terinspirasi oleh sebuah training manakala training itu tidak memecahkan permasalahan riil yang mereka temui di lapangan. Pengetahuan bisa dipelajari dari buku, namun apa yang membuat training berbeda adalah ketika dia bisa memberi pencerahan berdasarkan konteks dan kondisi unik perusahaan dan secara khusus lagi mereka yang jadi peserta pelatihan.

Sebelum mengikuti pelatihan, Robi menyarankan, agar perusahaan memberikan penjelasan mengenai target yang ingin dicapai dari pelaksanaan pelatihan tersebut. "Katakan dengan jelas keterampilan apa yang nantinya didapat karyawan lewat pelatihan ini," papar Robi.

Lebih jauh Robi melihat, acap kali karyawan dikirimkan ke sebuah pelatihan yang tidak berhubungan langsung dengan job description mereka. Tentu saja mereka membutuhkan waktu untuk mengaplikasikan hasil pelatihan yang didapatkan atau bahkan tidak ada kesempatan untuk mengaplikasikannya.

Karena itu, perusahaan sudah seharusnya menetapkan dengan pasti siapa saja karyawan yang akan dikirim untuk mengikuti pelatihan sesuai dengan bidang mereka masing-masing. Dan jangan lupa mengomunikasikan tujuan pelatihan. Faktor lain yang menjadi penyebab terbesar mengapa training menjadi kurang berdampak, yakni tatkala peserta training mempunyai tanggung jawab yang lemah atas nasib pembelajaran mereka.

Peserta training tersebut harus dibantu agar mereka dapat mengevaluasi pembelajaran dan pengaplikasian dari apa saja yang telah dipelajari dalam training. Supervisi dalam indikator perilaku yang sesuai dengan target pelatihan haruslah dijalankan dan sistem reward bersesuaian perlu dirancang.

Perlu diketahui,agar sebuah training dapat mencapai efektivitas yang diharapkan, diperlukan partisipasi dan kerja sama yang baik dari pihak-pihak terkait, dalam hal ini, pihak HRD jelas memegang peranan penting.

Bersama dengan konsultan atau trainer, diskusikan secara pasti ukuran kesuksesan training berdasarkan kebutuhan riil, disepakati bersama dan dipahami secara sama. Manakala HRD gagal mengaitkan investasi training dengan kebutuhan dan sasaran bisnis perusahaan,maka efektivitas training tak akan memuaskan.

Di lain pihak, konsultan atau trainer pun harus dapat merancang metodologi yang sesuai dengan target dan indikator sukses pembelajaran.

Tak hanya itu, konsultan pun sebaiknya turut menanggung akuntabilitas atas hasil training dengan membantu perusahaan melakukan pendampingan dan coaching pasca pelatihan berlangsung. Pihak manajemen pun tak luput dari pihak yang bertanggung jawab pula. Manajemen mempunyai andil dalam menyediakan atmosfer yang kondusif bagi penerapan hasil-hasil training. (sri noviarni)
(Koran SI/Koran SI/rhs )

Thu, 29 Sep 2011 @10:59

Welcome
image

Irvan Gading

WA 085100292698 - 081586612270


Soho
Sekolah Maroko
Jl. H. Salim III No 07 Radio Dalam Jakarta Selatan
Mitra Bisnis
Facebook

 

Photobucket

On Line

VISITOR


statistik