5 HAL YANG PERLU DIPAHAMI TENTANG ARC FLASH PADA SISTEM LISTRIK
Arc flash merupakan pelepasan energi listrik secara tiba-tiba melalui jalur udara yang tidak seharusnya menjadi media penghantar. Fenomena tersebut dapat menghasilkan cahaya sangat terang, panas ekstrem, gelombang tekanan, suara keras, serta percikan material logam panas. OSHA menjelaskan bahwa arc flash dapat terjadi bahkan pada sistem tegangan rendah seperti 120/208 V sehingga tingkat tegangan tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya ukuran risiko.
Pekerja yang berada di sekitar peralatan listrik dapat mengalami luka bakar, gangguan pendengaran, cedera akibat tekanan, hingga cedera dari material yang terlontar ketika arc flash terjadi. Risiko tersebut membuat pekerjaan pada atau di dekat bagian listrik bertegangan memerlukan pengendalian bahaya yang terencana. Karena itu, pemahaman mengenai penyebab, dampak, dan metode perlindungan menjadi bagian penting dalam keselamatan kerja listrik.
Memahami Proses Terjadinya Arc Flash
Arc flash dapat terjadi ketika kondisi listrik memungkinkan arus membentuk busur listrik melalui udara. Kesalahan sambungan, benda asing, kerusakan isolasi, atau kontak yang tidak disengaja dapat menyediakan jalur yang memicu busur tersebut. Ketika busur terbentuk, energi listrik dapat berubah menjadi panas dan tekanan dalam waktu yang sangat singkat.
Besar kecilnya dampak tidak hanya ditentukan oleh tegangan sistem. OSHA menyebutkan bahwa energi insiden arc flash terutama dipengaruhi oleh arus, waktu berlangsungnya gangguan, dan jarak pekerja dari sumber energi. Kondisi tersebut membuat peralatan dengan tegangan yang relatif rendah tetap memerlukan pengendalian risiko yang sesuai.
Mengenali Penyebab Arc Flash pada Sistem Listrik

Ilustrasi. Sumber: Pexels.com/Killian Eon
Kondisi peralatan yang tidak terawat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan listrik yang memicu arc flash. Kerusakan isolasi, koneksi yang longgar, kontaminasi, kesalahan instalasi, dan masuknya benda asing dapat mengganggu kondisi normal penghantaran listrik. Aktivitas pengoperasian atau pemeliharaan juga dapat memperbesar risiko apabila pekerja melakukan kontak tidak disengaja dengan bagian bertegangan.
Kesalahan manusia dapat menjadi faktor lain ketika pekerja menggunakan prosedur yang tidak tepat atau mengabaikan kondisi peralatan. Pekerjaan yang dilakukan tanpa pengamanan sumber energi juga dapat membuat pekerja terpapar langsung terhadap bahaya listrik. OSHA mensyaratkan bahwa bagian listrik yang telah dimatikan tetapi belum di-lockout atau di-tagout tetap diperlakukan sebagai bagian yang bertegangan.
Memahami Dampak Panas dan Arc Blast
Arc flash menghasilkan panas yang sangat tinggi dalam waktu singkat sehingga energi tersebut dapat menyebabkan luka bakar serius. OSHA mencatat bahwa suhu dalam busur listrik dapat mencapai lebih dari 19.400 °C dan proses tersebut juga dapat menguapkan logam konduktor. Gas panas, logam cair, serta material yang terlempar kemudian dapat memperluas dampak cedera di sekitar titik kejadian.
Gelombang tekanan atau arc blast juga dapat membahayakan pekerja yang tidak mengalami kontak langsung dengan busur. Tekanan tersebut dapat menghasilkan suara sangat keras, mendorong tubuh, serta melemparkan partikel atau bagian peralatan. Oleh sebab itu, pengendalian arc flash perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar perlindungan terhadap panas.
Melakukan Arc Flash Hazard Calculation
Studi arc flash membantu pengelola fasilitas memperkirakan besarnya energi yang mungkin diterima pekerja pada lokasi tertentu. IEEE 1584-2018 menyediakan model matematis untuk menentukan jarak bahaya arc flash dan energi insiden yang dapat mengenai pekerja pada sistem tertentu. Standar tersebut mencakup sistem AC tiga fase dengan tegangan nominal 208 V hingga 15 kV.
Data sistem perlu dikumpulkan secara akurat sebelum perhitungan dilakukan. Informasi seperti konfigurasi sistem, karakteristik sumber, perangkat proteksi, jenis peralatan, dan kondisi instalasi dapat memengaruhi hasil studi. IEEE juga menerbitkan IEEE 1584.2-2025 yang memberikan panduan pengumpulan data untuk studi arc flash pada sistem AC tiga fase 50/60 Hz hingga 1.000 V.
Menggunakan Pengendalian Energi Sebelum Pekerjaan
Penghilangan sumber energi menjadi pendekatan penting sebelum pekerja melakukan pekerjaan pada bagian listrik yang memungkinkan paparan terhadap bahaya. Prosedur lockout/tagout memastikan sumber energi telah diisolasi, dikunci, dan diberi penandaan sebelum pekerjaan dimulai. OSHA menyatakan bahwa bagian listrik yang sudah dinyatakan tidak berenergi tetapi belum menjalani proses lockout/tagout harus tetap diperlakukan sebagai bagian bertegangan.
Pekerja juga perlu melakukan verifikasi bahwa kondisi bebas energi benar-benar telah tercapai sebelum menyentuh bagian yang akan dikerjakan. Prosedur tersebut perlu mengikuti instruksi kerja dan persyaratan keselamatan yang berlaku pada fasilitas. Pengendalian energi dapat mengurangi kemungkinan pekerja terpapar langsung pada sumber arc flash selama kegiatan pemeliharaan.
Memilih PPE yang Sesuai dengan Risiko
PPE menjadi lapisan perlindungan ketika pekerja masih menghadapi potensi paparan terhadap energi panas dari arc flash. OSHA mensyaratkan penggunaan pakaian dan perlengkapan pelindung dengan tingkat perlindungan yang sesuai dengan energi panas yang diperkirakan pada kondisi tertentu. Pakaian yang dapat meleleh atau mudah terbakar juga tidak boleh digunakan ketika pekerja menghadapi bahaya busur listrik.
Perlindungan dapat mencakup pakaian arc-rated, pelindung wajah, sarung tangan, pelindung kepala, dan perlengkapan lain sesuai hasil penilaian bahaya. Pemilihan perlengkapan tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan tegangan nominal sistem karena energi insiden dipengaruhi oleh beberapa parameter. Penggunaan PPE juga perlu mengikuti tata cara pemakaian yang benar agar celah perlindungan tidak muncul selama pekerjaan berlangsung.
Menjaga Kondisi Peralatan dan Sistem Proteksi
Pemeliharaan peralatan listrik dapat membantu mengurangi kondisi yang berpotensi memicu gangguan. Pemeriksaan koneksi, isolasi, panel, kabel, perangkat proteksi, dan sistem pembumian perlu dilakukan berdasarkan program pemeliharaan yang ditetapkan fasilitas. Temuan kerusakan perlu ditangani sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Sistem proteksi juga memiliki peran penting dalam membatasi durasi gangguan ketika kegagalan listrik terjadi. Waktu pemutusan gangguan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi energi insiden yang diterima pekerja. Oleh karena itu, koordinasi dan kondisi perangkat proteksi perlu dipertimbangkan dalam studi arc flash dan pengelolaan keselamatan sistem listrik.
Meningkatkan Kesiapan Pekerja melalui Prosedur dan Pelatihan
Pekerja membutuhkan prosedur kerja yang menjelaskan bahaya listrik, langkah isolasi energi, batas area kerja, serta penggunaan PPE yang sesuai. Materi tersebut perlu disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan konfigurasi sistem yang dihadapi dalam aktivitas sehari-hari. OSHA juga menempatkan pemahaman terhadap bahaya arc dan api sebagai bagian dari persyaratan keselamatan bagi pekerja yang terpapar risiko tersebut.
Simulasi dan latihan prosedur dapat membantu pekerja memahami tindakan yang harus dilakukan sebelum, selama, dan setelah pekerjaan. Pengawasan lapangan kemudian dapat memastikan prosedur benar-benar diterapkan sesuai ketentuan yang ditetapkan. Pendekatan tersebut membantu membangun kebiasaan kerja yang lebih konsisten ketika pekerja menangani sistem listrik.
Kesimpulan
Arc flash merupakan bahaya listrik yang dapat menghasilkan panas ekstrem, tekanan, suara keras, dan material panas dalam waktu sangat singkat. Faktor seperti arus, durasi gangguan, jarak pekerja, kondisi peralatan, serta sistem proteksi dapat memengaruhi besarnya paparan energi. Karena itu, pengendalian risiko perlu dilakukan melalui identifikasi bahaya, pengendalian sumber energi, studi arc flash, pemeliharaan sistem, serta penggunaan PPE yang sesuai.
Keselamatan pekerja tidak hanya bergantung pada satu lapisan perlindungan. Prosedur kerja yang benar perlu berjalan bersama kondisi peralatan yang baik, sistem proteksi yang terpelihara, hasil perhitungan bahaya yang memadai, dan perlengkapan pelindung yang sesuai. Dengan pendekatan tersebut, risiko paparan arc flash dapat dikelola secara lebih sistematis pada berbagai aktivitas pekerjaan listrik.
*Ditulis oleh Maharani Kusuma Artanti. Sebagai Content Writer yang berpengalaman sejak 2021, Maharani fokus pada penulisan konten yang informatif dan teroptimasi. Sejak 2025, ia mendedikasikan keahliannya untuk SEO dan visibilitas online, memastikan informasi pelatihan tersaji jelas dan aksesibel. Terhubung dengan Maharani via LinkedIn.
